Dari Era Perserikatan Hingga Liga Indonesia, Ini 5 Stopper Lokal Berkelas di PSM Makassar
PSM Makassar merupakan salah satu tim besar di Indonesia dan kerap diperkuat oleh bek lokal berkelas.

Dari Era Perserikatan Hingga Liga Indonesia, Ini 5 Stopper Lokal Berkelas di PSM Makassar

Posted on

PSM Makassar merupakan salah satu tim besar di Indonesia dan kerap diperkuat oleh bek lokal berkelas.

PSM merupakan tim yang dikenal kerap menampilkan permainan cepat dan keras. Karakter petarung dan militan melekat kental pada pemain berdarah Makassar, khususnya para bek tengah Juku Eja.

Tampilan bek yang tanpa kompromi dalam mengawal striker lawan kerap jadi tontonan yang menghibur suporter PSM Makassar. Baik di era Perserikatan sampai Liga Indonesia.

Di era Perserikatan, PSM memunculkan sederet stoper yang menonjol seperti Santja Bachtiar, Makmur Chaeruddin, Idris Mappakaya, John Simon, Saleh Ramadaud, Hafied Ali, Musdan Latandang, Josef Wijaya, Anwar Liko dan Mustafa Umarella.

Pada masa ini, PSM meraih beberapa piala di level nasional. Salah satunya 5 kali juara Perserikatan yaitu 1956–1957, 1957–1959, 1964–1965, 1965–1966 serta 1991–1992.

Juku Eja berjaya di beberapa turnamen besar di tanah air saat itu ibarat Piala Jusuf (1965, 1967, 1975, 1978, 1980, 1984), Piala Soeharto (1974 serta Piala Tugu Muda (1980). Adat menimbulkan stopper kuat masih terbangun waktu pertandingan Perserikatan serta Galatama digabungkan jadi Liga Indonesia.

Beberapa nama seperti Syamsuddin Batola, Ronny Ririn, Yeyen Tumena, Alibaba, Charis Yulianto, Jack Komboy, Hamka Hamzah sampai Abdul Rahman Sulaeman tampil mencolok bersama PSM. Perolehan piala juara PSM di masa ini berlangsung pada Liga Indonesia 1999-2000 serta Piala Indonesia 2018-2019.

Peranan beberapa stopper ini benar-benar sentra serta kental memberi warna perjalanan PSM Makassar di pertandingan sepak bola Tanah Air. Dengan gelar serta populeritas di mata supporter untuk referensinya, berikut beberapa nama bek lokal berkualitas di PSM Makassar dari masa perserikatan sampai Liga Indonesia.

John Simon

Bek berdarah Tionghoa ini berperanan utama di PSM waktu kuasai Perserikatan pada pengujung 1950-an serta awal 1960-an. Tidak cuma jadi pilar Juku Eja, stopper yang diketahui dengan tekel serta kejeliannya bawa arah bola ini jadi pilihan penting Tony Poganick, pelatih timnas Indonesia.

Di PSM, John ialah duet yang bagus buat Santja Bachtiar atau Makmur Chaeruddin. Sesaat di Tim nasional Indonesia, John jadi pemain starter reguler bersama Iljas Haddade.Sayang, profesi cemerlang John Simon ternoda skandal Senayan pada 1962.

Bersama sembilan pemain yang lain, Iljas Hadade, Pietje Timisela, Omo Suratmo, Rukma Sudjana (kapten), Sunarto, Wowo Sunaryo (Persib), Manan, Rasjid Dahlan (PSM Makassar), serta Andjiek Ali Nurdin (Persebaya), dia dicoret dari tim nasional yang disiapkan hadapi Asian Games 1962. John serta teman-teman disangka terjebak suap waktu Tim nasional Indonesia beruji coba dengan Malmoe (Swedia), Tim nasional Thailand, Yugoslavia, serta Ceko.

Tanpa ada pilarnya, Indonesia yang bernafsu juara sesudah meraih perunggu pada Asian Games 1958 pada akhirnya harus tersisih pada penyisihan group.

Yosef Wijaya

Seperti John Simon, Yosef Wijaya datang dari turunan Tionghoa. Pertandingan internal PSM yang ketat serta sengit membuat militansi serta nyali Yosef waktu menjaga penyerang musuh tergali maksimal.

Namanya mulai muncul pada Perserikatan musim 1983 waktu bawa PSM berhasil lolos empat besar. Musim selanjutnya yaitu pada 1985, duetya bersama Mustafa Umarella jadi tembok kuat PSM. Saat itu, PSM memiliki di status juara tanpa ada mahkota.

Juku Eja menaklukkan PSMS Medan serta Persib Bandung di enam besar. Tetapi, malah PSMS serta Persib yang maju ke laga final. PSM kalah beda gol dari Persib yang saling mengumpulkan point 6. Mengenai PSMS ke final dengan perolehan 7 point.

Sudah diketahui PSMS pada akhirnya menjadi juara sesudah menaklukkan Persib lewat beradu penalti. Karena laganya bersama PSM, Yosef yang kapten PSM ini pernah dipanggil menguatkan Tim nasional Indonesia pada laga eksperimen. Tujuh tahun selanjutnya, Yosef pada akhirnya menyelesaikan profesinya dengan bawa PSM meraih piala juara Perserikatan 1991-1992. Di semi-final, PSM menaklukkan Persib 2-1. Juku Eja pada akhirnya meraih juara sesudah menekuk PSMS Medan dengan score sama di laga final.

Alibaba

Alibaba jadi pujaan supporter PSM dengan performa tanpa ada sepakat di atas lapangan hijau. Pada Liga Indonesia 1995-1996, sosok Alibaba lebih mencolok dari dua partnernya di baris belakang, Yeyen Tumena serta Marcio Novo.

Musim itu, bersama PSM, Alibaba tembus final hadapi Mastrans Bandung Raya. Tetapi, performa Juku Eja seperti alami antiklimaks serta pada akhirnya kalah 0-2.

Di tahun yang sama, PSM tidak berhasil meraih juara di Piala Bangabandhu. Sesudah tampil memikat sampai semi-final, PSM pada akhirnya kalah 1-2 dari timnas Malaysia.

Walau sebenarnya, pada turnamen itu, Izaac Fatari serta Musa Kallon jadi top skor. Sedang Luciano Leandro jadi pemain terbaik. Empat tahun selanjutnya, Alibaba pada akhirnya meraih piala juara bersama PSM di Liga Indonesia 1999-2000.

Di pengujung profesinya untuk pemain, Alibaba pernah beraksi di Liga Champions Asia serta tembus perempat final tempat itu pada 2001.

Sesudah menggantung sepatu, Alibaba pernah jadi asisten pelatih PSM sebelum pada akhirnya pilih konsentrasi jadi dosen pada beberapa perguruan tinggi di Makassar. Pada Juli 2019, Alibaba yang bertitel Doktor Pengetahuan Manajemen ini mengembuskan nafas terakhir kalinya karena penyakit dalam.

Ronny Ririn

Ronny Ririn ialah penerus Alibaba di PSM. Ciri-khasnya hampir serupa. Ronny awalannya bermain untuk bek kanan. Tetapi, searah dengan berkurangnya performa Alibaba, Ronny sering gantikan peranan seniornya itu pada tempat bek tengah di Liga Indonesia 1999-2000.

Justru, pada beberapa partai, kedua-duanya jadi tembok kuat Juku Eja bersama bek asing Charles Lionga serta Joseph Lewono (Kamerun). Karena performa PSM di Liga Indonesia 1999-2000, Ronny masuk ke scuad timnas Indonesia di Piala Asia 2000.

Performanya yang garang di atas lapangan tetapi santun dalam sehari-harinya membuat Ronny jadi contoh bek muda Makassar. Termasuk juga Hamka Hamzah yang tanpa ada sungkan mengaku Ronny untuk pujaannya. Dapat dibuktikan jersey nomor 23 yang menempel pada Ronny bersama PSM digunakan Hamka. Terakhir nomor 23 jadi trade mark Hamka di panggung Liga Indonesia.

Abdul Rahman Sulaeman

Walau berdarah Bugis-Makassar Abdul Rahman lebih banyak habiskan profesi sepak bola di perantauan. Dia tinggalkan Makassar waktu umurnya masih 16 tahun serta masuk di Diklat Ragunan.

Setelah dari Diklat Ragunan, dia menguatkan beberapa club, salah satunya Persita Tangerang, Pelita Jaya, Semen Padang, Sriwijaya FC, Persib Bandung, Karketu Dili (Timor Leste) serta Bali United.

Rahman kembali pada Makassar mendekati Liga 1 2018. Pelatih PSM waktu itu, Robert Alberts memplotnya untuk alternatif Hamka yang keluar ke Sriwijaya FC. Pada musim pertama kalinya, Rahman yang berduet dengan Steven Paulle di tempat stoper hampir bawa Juku Eja juara.

Diakhir pertandingan, PSM cuma berbeda satu point dari si juara, Persija Jakarta yang mengumpulkan 62 angka. Satu tahun selanjutnya, Rahman yang berduet dengan Aaron Evans di bidang bek tengah persembahkan piala juara Piala Indonesia 2018-2019 buat PSM.

Dengan cara pribadi, ini piala ketga buat bek yang bawa Tim nasional Indonesia U-23 meraih medali perak cabang sepakbola Sea Games 2011. Awalnya, bersama Semen Padang, Rahman meraih piala juara Liga Primer Indonesia 2011-2012 serta gelar Liga Super Indonesia 2014 waktu berbaju Persib Bandung.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *